Benteng Kesepian

oleh geomania

Seperti namanya ‘Benteng’, mesti harus kokoh, tahan peluru, bahkan gempa sekalipun. Dan ini yang rupanya melekat pada benteng kesepian. Yakni benteng yang konon dibangun oleh bangsa Jepang saat Perang Dunia II. Sayang, benteng ini tidak setenar benteng di Yogya, atau Durstede. Jadi bolehlah bila saya sebut kesepian.

Benteng tak bernama ini tersebar di kabupaten Jember Selatan, sekitar tiga kilometer dari Samudera Hindia. Di desa kami Cakru, Kencong ada sekitar lima buah. Di Rowo Gempol, Paseban juga ada sejumlah itu. Begitupun desa-desa lain di pesisir selatan Samudera Indonesia. Banyak tersebar bangunan tak terperhatikan seperti itu.

Sayang tidak ada sumber yang bisa dimintai keterangan berkaitan dengan bangunan itu. Mungkin karena saya memang bukan penduduk asli. Jadi susah mencari info tentang bangunan itu. Dan sma bertanya kepada keluarga istri yang sudah berumur70 an tahun juga tidak mengenali kisah bangunan itu. Sekali lagi sayang…

Benteng dikelilingi hutan bambu

Benteng dikelilingi hutan bambu



Yah hanya berani mereka-reka karena didaerah tersebut ada desa tempuran maka kemungkinan di daeah tersebut pernah terjadi pertempuran. Sebab, biasanya orang dahulu suka memberi nama wilayah dengan kejadian spektakuler atau hal yang paling menonjol. InsyaAllah begitu.

Sekedar mereka-reka lagi, didalam benteng juga mungkin terdapat alur-alur atau jalur tikus, seperti kebanyakan benteng Jepang di Cilacap, Jawa Tengah dan Benteng Jepang di Padang, Sumatera Barat. Soalnya ditiap benteng itu terdapat pintu masuk, tapi belum ada penduduk setempat yang berani masuk kedalamnya. Penduduk takut jika terdapat hewan seperti serangga, atau juga ular. Jadi ada apa didalam benteng tersebut masih misterius. Ada sarang ular, atau tengkorak tentara Nipon …
Benteng tampak dari depan

Benteng tampak dari depan



Disekitar rumah penduduk juga terdapat bangunan yang sama. Seperti biasa, sebuah objek yang berdekatan dengan manusia biasanya ada intervensi. Intervensi ringan, seperti vandalisme atau bahkan usaha menghancurkan. Seperti benteng di dekat Musholla, di Cakru pernah hendak di Buldoser. Untung benteng ini tak bergeming sedikitpun. Benar-benar benteng.
Benteng dilingkungan rumah penduduk

Benteng dilingkungan rumah penduduk



Bercokolnya benteng kesepian yang bisu setidaknya telah ‘memberitahukan’ pelajar setempat, bahwa di daerahnya pernah terjadi pertempuran besar. Dan kebanggaan untuk terus mengobarkan semangat juang semoga tetap membara. Semangat juang untuk hidup menjadi lebih baik.(Suretno)

6 Komentar to “Benteng Kesepian”

  1. sayang sekali, ga ada yang tau sejarahnya…walaupun kesepian, dia tetap kokoh 🙂

  2. saksi bisu dari sebuah sejarah yang perlu terus digali informasi mengenainya….

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Suretno, sahabat guru…

    Hadir untuk menyapa bagi terakhir kalinya sebelum mengundur diri dari keindahan persahabatan di maya. Saya sangat menghargai segala sapaan dan silaturahmi selama kita bersama.

    Kita hanya bertemu lewat catatan di poskad kenangan. Hanya memandang kaburan wajah di potret khayalan. Hanya mengetik huruf-huruf di tinta minda. Maafkan saya lahir dan batin jika…. pada tutur kata yang sesekali mencalar hati dalam penulisan dan pendapat diberi.

    Semoga Allah selalu memberkati persahabatan yang terjalin baik ini. Sebuah KENANGAN TERINDAH akan menyusul dalam diari kehidupan kita sebagai satu ikatan yang tidak bisa terlerai, andainya pertemuan itu bukan lagi milik kita. Doakan saya dalam kehidupan ini di dunia dan akhirat. Aamiin.

    Salam mesra penuh ukhuwwah berpanjangan hingga ke akhirat dari saya Siti Fatimah Ahmad, Sarikei, Sarawak.

  4. Walaikumsalam wr.wb. Mba Siti sahabat guru juga …
    Sayang jika harus undur diri Mba Siti. Selama ukhuwah masih bisa dijalin mestinya tetap diteruskan. Meski hanya lewat dunia maya. Tapi jika ada alasan prinsip maka sayapun tidak bisa melarangnya. Terimakasih dan mohon maaf pula jika ada salah-salah kata saya selama ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s