Sang Penakluk Lahan Gambut

oleh geomania

Edi, Petani Muda

Edi Petani Muda

“Awalnya sulit”, kata Edi mengawali kisahnya. Apalagi bila merunut ke belakang, Edi yang berasal dari Kencong, Jember terbiasa mengolah sawah beririgasi. Baginya mengolah lahan gambut perlu belajar banyak. Terlebih jarang sekali penduduk setempat bekerja sebagai petani. Jadi dg trial yang sering error akhirnya berhasil juga ia menundukan lahan bergambut.

Beruntung petani muda ini pernah mengenyam sekolah pertanian di Jember. Dengan modal ilmunya ia berhasil menetralkan lahan gambut yang asam. Di gubugnya yang sudah reyot ia sering mengaduk pupuk yang diraciknya sendiri. Ada kapur, kotoran ternak, dan sampah yang sudah dikomposkan. Hasilnya cespleng. Tanahnya cocok ditanami sayuran, seperti lombok, mentimun, labu dan palawija. Bahkan kini ia sedang menunggu panen padi.

Hari hari sang petani:

Mengusir Burung

Mengusir Burung

"Masih luas tanah yang nganggur ..."

"Masih luas tanah yang nganggur ..."

Sayang, karena tidak ada petani lain disekelilingnya hama sering menyerangnya. Terutama burung. Si petani muda ini harus rajin berangkat pagi pulang petang. Sembari mengusir burung, ia memasang dan menengok pancing pancing yang dipasangnya di sungai parit-parit kecil dan danau kecil disekeliling tanah olahannya. Ada banyak ikan, seperti haruan (kutuk), Lais, dan ikan putihan. “Sambil menyelam minum air”, katanya. Jadi tak heran bila pulang ia menenteng puluhan ikan tangkapannya.

Protein gratis untuk yang di rumah

Protein gratis untuk yang di rumah



Mencoba ‘dunia’ lain

Dirumahnya, setiap selepas sholat Isya ia sering berpikir. Memikirkan lahan-lahan kosong yang dibiarkan penduduknya. Hanya rumput yang tumbuh dengan bebasnya. “Rumput di lahan ini harus dimanfaatkan”, gumamnya. Akhirnya, petani muda ini memberanikan diri ke dinas peternakan. Ia mengajukan permohononan Sapi. Goal …dua belas sapi dikirim ke kampungnya. Tentu tidak serta merta sapi itu diperolehnya. Tapi karena ia memiliki sertifikat kelompok tani. Jadi dengan sertifikat inilah Dinas Peternakan mau memberikan sapi untuk kelompok petani dikampungnya.

Mudah-mudahan dengan cara ini penduduk kampung bisa lebih giat bekerja. Kata Edi,”Sangat mudah pelihara sapi di kampung ini. Sapi tinggal dilepas bebas makan rumput sepuasnya. Sore tinggal digelandang ke kandang”.

Sayang tidak semua penduduk mau diajak kerjasama. Tidak tanggung-tanggung sekelompok masyarakat mendatangi rumahnya, ada yang mengancam dengan membawa parang, sabit, pemukul, dll. Mereka minta sapi untuk dipotongnya. Mereka tidak paham, kalau sapi itu milik pemerintah. Sapi itu baru bisa menjadi miliknya setelah beranak. Induk untuk si petani, anaknya diserahkan dinas peternakan untuk digulirkan ke peternak lain. Istilah ini dikenal dengan sistem gaduhan.

Akhirnya untuk meredam kemarahan warga sapi itu di ambil kembali oleh dinas peternakan. Dan untuk beberapa saat dinas peternakan membacklist masyarakat setempat dalam pengelolaan sapi yang berkaitan dengan sapi gaduhan.
Bagian dari Ratusan ha Tanah yang 'Tidur'

Bagian dari Ratusan ha Tanah yang 'Tidur'

Pemandangan mengasyikan

Lama saya tidak mancing diareal pertaniannya. Namun Kamis yang lalu saya jalan-jalan memancing disepanjang sungai Pampang, sungai yang mengairi areal pertaniannya. Saya melihat sapi-sapi sedang merumput di samping tanah olahannya. Saya melihat dikirikanan sungai lambaian padi yang mulai merunduk siap panen. Sementara diseberangnya ada tanaman lombok yang masih diselubungi plastik. Saya belum mau menghampirinya. Saya hanya diam sambil menunggu joran pancing saya digoyang haruan atau lais. Melihat tanaman yang menghampar saya sudah mendapat jawaban kalau petani muda ini telah berhasil menundukan lahan gambut. Semoga Allah memberkahinya. Amin.

Masih ada harapan

Masih ada harapan


Oleh : Suretno

10 Komentar to “Sang Penakluk Lahan Gambut”

  1. disatu sisi, daerah lain, padat penduduk,
    di belahan lain, tanah luas terhampar tanpa tangan-tangan yang tidak se kreatif Edi.

  2. lahan gambut ? harus ada pendekar lahan gambut yang berhasil buat membuka mata orang banyak. semoga keberhasilan demi keberhasilan terus menyertai petani kita. Amin…

  3. hebat!… it’s great!..
    pertumbuhan penduduk memang tidak merata, jika merata pasti semua lahan bisa dikembangkan..
    salam

  4. gudjob!
    semoga makin menginspirasi!:mrgreen:

  5. orang2 seperti ini yang bisa menjadi inspirasi buat kita semua.
    semoga perjuangannya tidak sia-sia..

  6. petani muda itu luar biasa. di saat orang lain tertarik hijrah ke kota, dia mengabdikan hidupnya menjadi seorang petani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s